Dispepsia *artikelpenyegar*

Dispepsia atau orang awam menyebutnya dg sakit maag sering bikin dokter dan pasien frustasi. Karena penyakit ini susah sembuhnya 😦

Dispepsia merupakan kumpulan gejala yg bervariasi pada tiap individu, baik intensitas maupun waktunya. Gejala tersebut meliputi nyeri epigastrium (ulu hati), mual, kembung, muntah, sering sendawa, dan cepat merasa kenyang.

15-30% dari populasi umum pernah mengalami dispepsia. Di negara barat, prevalensi dispepsia sebesar 7-14%, dari angka tersebut, 10-20% sajalah yang berobat. Survei di Jakarta menunjukkan, 60% dari 1650 penduduk pernah mengalami dispepsia.

Berdasarkan pengelolaan penyakit, dispepsia dibedakan menjadi investigated dan noninvestigated. Investigasi dilakukan dengan melakukan endoskopi. Dari investigasi itu akan tampak adakah kelainan atau tidak di sepanjang saluran pencernaan bagian atas.

Dispepsia investigated dibagi menjadi dua, yaitu dispepsia organik dan dispepsia fungsional. Dispepsia organik artinya jika pada endoskopi ditemukan kelainan seperti ulkus peptik, ulkus gaster, ulkus duodenum, bahkan gastric cancer. Kasus ulkus gaster dan ulkus duodenum ditemukan pada usia lebih tua, yaitu di atas 45 tahun. Hal ini berbeda dengan dispepsia fungsional yang tidak ditemukan kelainan apapun di saluran cerna bagian atas. Dispepsia fungsional menurut Rome III adalah adanya keluhan satu atau lebih gejala yang berlangsung 3 bulan dalam waktu 6 bulan terakhir.

Keluhan dispepsia bisa timbul sebagai akibat kelainan saluran cerna bagian atas, penyakit lain (hati, pankreas, dan sebagainya), penyakit sistemik (misalnya diabetes mellitus) serta gangguan fungsional tanpa kelainan. Gangguan fungsional bisa disebabkan oleh makanan tertentu seperti buah, acar, kopi, alkohol, dan makanan berlemak. Kuman H. pylori juga berperan penting dalam gejala dispepsia. Cara membuktikan adanya infeksi kuman ini adalah dengan biopsi lambung atau cara noninvasif seperti urea breath test, H. pylori stool, dll.

Penanganan dispepsia dilakukan setelah memastikan tidak ada penyakit fatal. Penanganan dispepsia pertama harus mempertimbangkan adakah alarm symptoms yaitu anemia, disfagia, hematemesis melena, berat badan turun, dan ada tanda obstruksi esofagus. Jika tidak ada alarm symptoms, langsung diberi terapi empirik berupa obat. Obat tersebut berupa H2 receptor antagonis/proton pump inhibitor (PPI),  anatasida, dan prokinetik selama 2 pekan. Orang dengan dispepsia fungsional dengan keluhan nyeri epigastrik lebih berespon terhadap PPI. Namun penggunaan PPI dengan antasid tidak dianjurkan karena dapat menurunkan bioavalaibilitas PPI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s