Karena Rasa Tak Selamanya (2): Dialog dalam Diam

Di kamar kecil tempat aku mengabdi
Aku mengintip lewat jendela berpori
Malam sudah tumbuh tinggi
Suara rintik hujan menamani
Dan bintang tak terlihat lagi

Anak itu menangis
memelukku sambil menumpahkan air matanya
di kulitku

Anak itu membuangku lalu menuju laptopnya
Entah apa yang sedang dia perbuat
Dia mengambilku lagi
Memeluk sambil menekuk badanku
Kulitku basah lagi

Tangan kanannya melihat layar Blackberry
Dia mengetik sesuatu yang tidak bisa aku baca
Lalu dihapusnya lagi
Lalu dia kembali ke laptopnya
Menulis diary rupanya
Aku pun membacanya dengan lirih:

***
Menangis itu melegakan
membuatku sadar bahwa aku masih punya perasaan
sesuatu yang selama ini aku kesampingkan

Bukan kamu yang aku salahkan
Duhai sang masa depan

Tenang…Aku menangis karena aku mau

Karena menangis adalah pilihanku

Rasa ini nggak selamanya
Sedih ini akan berganti
Biarkan aku menikmati
Sama dengan cinta atau suka cita
Suatu saat akan berganti

***

Kopi yang ada dalam cangkir melihatku lekat
mengisyaratkan agar aku mengingatkan anak ini
untuk makan malam
Percuma
Tidak ada yang bisa memaksa anak ini melakukan sesuatu
yang dia tidak mau

Sisa kopi di cangkir bicara pada anak itu agar mau makan
Anak ini tahu benar bahwa minum kopi tanpa makan
sama dengan bunuh diri
Tapi anak ini sungguh keras kepala
Biarlah malam ini dia menyiksa diri sendiri
dengan permainan perasaannya

Kulitku sudah kering
Badanku yang panjang ini adalah favorit si anak
Aku sudah siap menemaninya
membawanya ke alam tidur tanpa mimpi

*Sumenep 23/01/13 11.11 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s