Membedakan Kejang dan Epilepsi

pertolongan pertama saat kejang

pertolongan pertama saat kejang


Epilepsi atau yang dikenal masyarakat sebagai ayan adalah kondisi yang ditandai dengan kejang berulang secara spontan. Tidak semua kejang adalah epilepsi, dan setiap epilepsi selalu ditandai dengan kejang. Pada umumnya, epilepsi ditandai dengan kejang tanpa faktor pencetus atau akibat penyakit otak akut. Misal ada seorang anak yang demam tinggi lalu kejang, hal itu belum bisa didiagnosis sebagai epilepsi.
Kejang terjadi sebagai akibat kelainan letupan listrik pada otak sehingga terjadi gangguan pada gerakan, sensasi, kesadaran, atau perilaku ganjil tanpa disadari penderita. Otak manusia terdiri dari trilyunan sel saraf yang saling berhubungan dengan letupan listrik yang diperantarai zat kimia yang disebut neuotransmitter. Letupan listrik ini tidak hanya terjadi di otak, tapi juga di otot sehingga kita menyadari akan suatu gerakan dan sensasinya. Nah, jika terjadi gangguan pada neurotransmitter itu, terjadilah kejang.

Kejang bukan hanya gerakan menyentak seluruh tubuh yang biasa dikenal masyarakat. Kejang dapat berupa menghilangnya kesadaran atau bengong sesaat, mata mendelik sekejap, atau tanda lain yang tidak disadari penderita bahkan orang di sekitarnya.
Diagnosis epilepsi ditegakkan berdasarkan pemeriksaan menyeluruh berdasarkan anamnesis (wawancara), pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Umumnya, anamnesis dilakukanterhadap orang di sekita pasien (keluarga, teman, dll.) karena penderita epilepsi sering tidak dapat mengingat kejang yang mereka alami.

Jika dokter memerlukan pemeriksaan penunjang, pasien akan diperiksakan rekam otak / electroencephalogram (EEG), pemeriksaan radiologi berupa Computed Tomography (CT-Scan) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI). Selain itu, dokter mungkin akan memeriksakan laboratorium untuk menentukan jenis dan obat yang nantinya akan diberikan pada pasien.

Penderita epilepsi yang rutin kontrol ke dokter dan meminum obat, umumnya akan dapat beraktivitas dengan baik tanpa terganggu dengan kejang. Ada beberapa hal yang dapat memicu kejang pada penderita epilepsi, seperti kurang tidur, stres, diet, siklus hormonal, konsumsi alkohol dan Narkoba, serta faktor obat. Faktor obat misalnya pasien mencoba untuk meminum obat lain selain obat yang diresepkan dokter.
Jika epilepsi terjadi pada anak, anak menjadi susah berkonsentrasi hingga mungkin saja mengalami kecelakaan berupa jatuh berulang, karena kehilangan kesadaran sesaat. Nah, para guru atau orang tua yang tidak teliti akan menganggap anak yang susah berkonsentrasi sebagai anak nakal atau bodoh, padahal anak tersebut menderita epilepsi. Stigma lain yang diberikan masyarakat penderita epilepsi adalah adanya pandangan bahwa kejang merupakan akibat dari kesurupan roh halus. Hal itu tidak tepat dan menyebabkan penderita epilepsi dikucillkan masyarakat.

Bagaimana jika mendapati seseorang kejang?
Pertama, jangan panik. Pindahkan barang-barang berbahaya yang ada di dekat pasien, misal gelas kaca, pisau, dll. Saat seseorang kejang, jangan mencoba memindahkan posisinya kecuali dengan posisi tersebut pasien dalam bahaya. Berikutnya, longgarkan kerah kemeja atau ikat pinggang agar memudahkan pernafasan. Jangan memasukkan apapun ke mulut pasien, karena hal itu justru dapat melukai pasien. Amati berapa lama orang tersebut kejang dan segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s