Hari Pahlawan, Adakah yang Terlupa?

Image
101112. Tanggal cantik ya? Hari ini Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Hari yang 67 tahun yang lalu, Bung Tomo memimpin para pejuang melawan tentara sekutu di Surabaya. Kita semua tahu hal itu. Ada poin penting yang terlupa. Kok bisa sih, para pemuda Surabaya begitu semangatnya bertempur melawan tentara Inggris? Karena pidato luar biasa Bung Tomo? Betul, tapi…Ada lagi?

Ada yang pernah mendengar Resolusi Jihad Tebuireng? Ternyata semangat para pemuda saat itu bukanlah semata-mata karena Bung Tomo, tapi karena ada seruan dari tokoh NU Tebuireng Jombang, KH Hasyim Asy’ari. Suatu saat, Soekarno bertanya pada beliau mengenai hukum membela tanah air. Hukum membela tanah air yang dipertanyakan Soekarno tersebut tentunya bukan membela Allah ataupun membela Islam. Sekali lagi, membela tanah air! Mbah Hasyim kemudian memerintahkan KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syamsuri, dan kiai lain untuk mengumpulkan kiai se-Jawa dan Madura. Para kiai dari Jawa dan Madura itu lantas rapat di Kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO), Jalan Bubutan VI/2, Surabaya, dipimpin Kiai Wahab Chasbullah pada 22 Oktober 1945. Pada 23 Oktober 1945, KH Hasyim Asya’rie atas nama Pengurus Besar NU mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah, yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad.Resolusi jihad tersebut kemudian dipublikasikan oleh Bung Tomo lewat sarana radio dengan suara khasnya yang menggelegar, heroik dan membakar semangat rakyat.

Maka kemudian berdatanganlah puluhan ribu rakyat yang terpanggil seruan resolusi jihad dari KH Hasyim Asya’rie tersebut ke Surabaya untuk berperang melawan tentara sekutu yang diboncengi oleh tentara Belanda Sang Penjajah. Sebagian besar dari mereka adalah para kiai dan santrinya dari seantero Jawa Timur, Jawa Tengah dan bahkan Jawa Barat. Bahkan mereka ini adalah inspirator dan inisiator bangkitnya etos heroisme dalam peristiwa 10 November 1945 yang sekarang kita kenang sebagai Hari Pahlawan. Bung Tomo sang komando dalam perang jihad tersebut, dengan pekik takbir Allahu Akbar ! membawa spirit jihad dari KH Hasyim Asy’arie. Memang Bung Tomo bukan santri, namun kepatuhannya kepada ulama yang kharismatis membangkitkan ruh heroismenya memimpin arek-arek Surabaya, sampai menewaskan Brigjen Mallaby.

Sayangnya, fragmen sejarah mengenai peran Tebuireng terhadap pertempuran itu menghilang. Pun, saya tidak pernah mengingat bagian ini pernah ada dalam buku sekolah. Ya kan? Ternyata peran Kiai NU sungguh luar biasa. Nasionalisme tidak lahir instan. Nasionalisme juga dilahirkan oleh tokoh agama. Jika direntangkan, politik tidak bisa terlepas dari agama.

Setiap tahun, di tanggal sama, masyarakat memiliki cara berbeda untuk memperingatinya. Peringatan Hari Pahlawan bisa berupa upacara yang memaksa peserta untuk mendengarkan pidato panjang yang pointless,  jalan sehat, ziarah, bahkan konser musik. Meriah. Semoga tak hilang makna. Jangan memperingati sejarah dengan hal-hal kontraproduktif bahkan hedonis. Menghidupkan semangat juang yang nyata, itulah tujuan peringatan hari pahlawan. Melahirkan pahlawan baru, seenggaknya itu.

Bagaimanapun cara memperingatinya, jangan terlena, jangan lupakan esensinya. Jangan lupa untuk berdoa untuk para pahlawan kemerdekaan kita. Bahkan untuk pahlawan terdekat, orang tua.

Advertisements

2 thoughts on “Hari Pahlawan, Adakah yang Terlupa?

    • Jadi, bukan hingar bingar konser perayaan kepahlawanan yang dirindukan. Tapi perasaan semangat setelah mendengar takbir, seperti Bung Tomo, seperti KH Hasyim Asy’ari. Allahu Akbar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s