“Dok, Dandan Dong!”

Seperti biasa, pagi ini saya visite pasien rawat inap di Puskesmas Lenteng. Dan seperti biasa, keluarga pasien yang menunggui luar biasa banyak, mirip pasar. Itu salah satu kebiasaan masyarakat Madura jika ada tetangga/saudara yang sakit. Belasan orang, bahkan puluhan, menggelar tikar, menyantap makanan dan minuman, mereka berkerumun duduk di lantai. Terdengar guyub? Betul, kelihatannya so sweet…tapi hal ini sedikit banyak menyusahkan dokter saat visite.

Saat visite, saya biasa mengajak keluarga pasien ngobrol, mendiskusikan perkembangan penyakit pasien. Seorang pasien mengeluhkan kondisinya yang capek berbaring di kamar inap, saya pun sambil bercanda menggoda istri pasien untuk memijit pasien. Sambil tertawa, istri pasien malah mijitin saya. Para perawat yang menemani saya visite mendadak berubah wajahnya, terlihat tidak suka.

Selesai visite, saya menulis rekam medik para pasien. Seorang perawat mengadu kepada saya bahwa beberapa keluarga pasien tadi sedang membicarakan saya. Katanya, dokternya kok kecil, dokternya masih anak-anak. Saya tertawa. Itu hal biasa bagi saya. Menurut para perawat, saya harus menunjukkan kewibawaan saya. Meski saya merasa biasa, tapi para perawat tidak terima jika dokternya dianggap remeh oleh keluarga pasien. Saya merasa tidak diremehkan kok. Menurut mereka, baru kali ini keluarga pasien berani mijitin dokter. Menurut mereka, itu tidak sopan. Lha, saya seneng-seneng aja kok.

Seorang perawat mengingatkan saya menggunakan jas dokter untuk menambah wibawa. Nah, kalo ini memamng saya salah. Tadi saya lupa tidak bawa jas dokter karena cuaca sedang panas. Tapi saya tegaskan, memakai jas dokter hanyalah atribut, bukan alat untuk mencari wibawa. Apalah arti wibawa, jika pasien menjadi takut berdiskusi dengan kita?

Para perawat tetap tidak puas. Menurut mereka, saya harus terlihat sebagai dokter yang berwibawa, bukan seperti anak SMA.
“Dok, dandan dong, biar kelihatan dokter gitu..bukan kaya anak sekolahan”,  kata perawat senior
Saya pun diam, kaget.
“Pokoknya besok saya pengen liat dokter elvy pake make up”
Saya tambah bingung mau jawab apa.

Saya paham. Perawakan saya kecil. Dengan pandangan sekilas, orang pun tidak akan percaya kalo saya dokter. Mereka kebanyakan berpikir saya bidan atau perawat. Penampilan sehari-hari saya: baju panjang longgar, rok, serta kerudung lebar dengan muka polosan (padahal sudah make bedak tipis).

“Dok, dandan dong!”
Saya diam lagi, ingin rasanya menunjukkan sikap. Tapi rasanya, saat itu bukanlah kondisi tepat, menginta tumpukann rekam medis pasien belum diselesaikan.

Dalam islam, dandan disebut tabarruj. Apakah seorang muslimah boleh berdandan?

“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di
rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj
(sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku)
seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang
dahulu” [al-Ahzaab:33]

Dear ibu perawat, terima kasih perhatiannya. Lain kali, saya akan berpenampilan lebih rapi dengan jas dokter tapi kalo dandan, nggak janji ya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s