Bahaya Suntik Tanpa Indikasi Medis

image

Pernah dengar kalau orang madura itu senang sekali dengan suntik?
Persepsi itu saya dapatkan sejak kuliah. Para guru saya sering menceritakan pengalamannya bekerja di daerah pinggiran yang kebanyakan dihuni orang madura. Ketika berobat, apapun sakitnya, mereka sering meminta untuk disuntik di pantat. Karena pantatnya ada dua bagian, tidak jarang mereka minta disuntik di pantat kanan dan kiri. Biar imbang kata mereka. Ternyata cerita para guru yang dulu saya anggap lucu, saat ini saya mengalaminya

“Sakit apa pak?”, tanya saya
“Batuk pilek sejak kemarin”, jawan pasien. Tanpa dikomando, pasien langsung naik ke bed pemeriksaan, tengkurap, buka sarung, berharap sang dokter segera menyuntiknya. Dokter yang belum selesai bertanya (anamnesis), mendadak melongo

Seorang laki-laki tiba-tiba muncul di bilik pintu Pustu (Puskesmas pembantu)
“Bapak mau periksa, ya?”, tanya saya
“Enggak, mau suntik”, jawabnya singkat
“Jadi, ke Pustu itu untuk disuntik? bukan diperiksa dokter?”, saya pun membatin

“Sakit apa bu?”
“Badan capek semua Dok, habis rewang”
“Perlu istirahat tuh Bu…saya kasi vitamin untuk saraf aja ya”
“Lo, nggak disuntik dok?”
“Ndak perlu bu”
Dengan muka merengut, si pasien ngomelngomel dan meninggalkan puskesmas

“Dok, semenjak ada dokter internship di Pustu (Puskesmas pembantu), Pustu jadi sepi”, curhat seorang perawat pada dokter jaga
“Lo, kenapa bu?”, tanya dokter bingung
“Karena temanteman dokter nggak ada yang mau nyuntik pasien. Padahal pasien datang kesini untuk itu. Pasien jadi kecewa dan ngasi tau ke tetanggatetangga kalau di Pustu nggak diapa-apain”

Itulah beberapa penggalan cerita dilema seorang dokter saat menghadapi pasienpasien yang minta suntik tanpa indikasi.

Suntik itu bukan tindakan sembarangan lo. Indikasi suntik intravena atau intramuskular (iv/im) itu jika pasien dirawat inap, saat pasien tidak bisa makan atau minum karena tidak sadar, muntah hebat, dll. Indikasi suntik juga bisa karena sifat obat yang memang harus disuntikkan, misal vaksin tertentu dan penicilin.

Jika digunakan tanpa indikasi medis, risiko tertular infeksi semakin besar. Infeksi bisa diakibatkan karena menggunakan jarum suntik berulang, atau infeksi lokal dari kulit pasien akibat tidak menggunakan prinsip desinfeksi sebelum menyuntik. Selain infeksi, risiko alergi obat sangat besar. Alergi obat memang juga bisa terjadi dengan obat oral (obat minum), tapi risikonya meningkat dengan pemberian obat melalui suntikan. Nah..alergi obat itu bukan sekedar gatalgatal atau timbul kemerahan di kulit, tapi lebih parah dari itu, pasien bisa pingsan dan henti nafas (shock anafilaktik)! Karena dengan memberikan obat melalui suntikan, akses obat ke pembuluh darah menjadi lebih cepat, tubuh belum bisa beradaptasi terhadap alergi, pasien bisa jatuh ke kondisi yang amat parah. Nah, inilah yang sering disebut masyarakat sebagai malpraktil. Padahal tidak bisa dibilang seperti itu. Reaksi alergi adalah suatu risiko tindakan medis, dokter dan masyarakat harus paham adanya risiko itu. Oleh karena itu, dokter sebisa mungkin akan memberi terapi sesuai indikasi. Jika tidak sesuai indikasi, persangkaan malpraktik bisa dikenakan kepada seorang dokter.

“Tapi dok, saya sudah berkali-kali suntik, nggak pernah alergi tuh”

Jangan salah. Alergi itu bukan hanya terjadi dengan sekali penggunaan obat. Orang yang pertama kali disuntik obat, tidak apa-apa, bisa saja pada penyuntikan berikutnya jatuh dalam kondisi alergi.

Apalagi jika keluhannya hanya capek, pengobatannya bukanlah dengan disuntik. Batuk pilek? Sakit perut? Obatnya bukan disuntik!

Untuk mencerahkan kulit, kan bisa disuntik vitamin C? silahkan saja jika mau menanggung risiko. Umumnya, dokter tidak akan mau mengambil risiko yang membahayakan pasien. Lagipula, suntik vitamin C hanya bisa “memutihkan” kulit sesaat kan? hal itu tidak sebanding dengan risiko medis termasuk risiko gagal ginjal akibat vitamin C berlebih. Dosis vitamin C yang begitu besar amat membebani ginjal.
“Tapi teman saya sering suntik vitamin C, sampai sekarang baik-baik saja”
Tunggu beberapa tahun lagi, silahkan cek ginjalnya. Saya yakin fungsinya akan menurun

Umumnya, alasan masyarakat gemar minta disuntik saat sakit adalah demi mendapatkan hasil instan. Benar. Saat Anda disuntik atau diinfus, badan akan langsung terasa lebih enak. Tapi tunggu beberapa jam atau hari, tubuh akan sakit kembali. Karena obat suntik umumnya hanya simtomatik (meredakan keluhan sementara). Tindakan suntik tanpa indikais medis, tidak dibenarkan.

“Jadi, obatnya apa dong? pengen segera sembuh nih”
tanyakan pada dokter, apa obat yang tepat. Pasien berhak kok untuk mendiskusikan penyakitnya kepada dokter. Tanyakan bagaimana cara minum obat, dan kemungkinan efek sampingnya kepada dokter.

Jadikanlah dokter anda sebagai partner konsultasi kesehatan Anda, bukan sebagai tukang obat/suntik. Jangan sedikit-sedikit, minta suntik ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s