Kopi dan Cerita Si Adik

image

Malam ini adik menangis, mengeluhkan kebenciannya akan Ospek jurusannya. Matanya sembab, sambil menggerutu adik terus menumpahkan kekesalannya. Ibu yang sedari tadi mendengarkan, akhirnya bicara juga. “Ayo Nak, antarkan adik beli es krim, biar tidak penat” Aku baru bangun dari ketiduranku dan segera membonceng adik dengan motorku. Sudah malam rupanya. Jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan. Ternyata adik menginginkan kopi, bukan es krim. Kita sampai di Coffee Toffee. Adik memesan caramel delight, saya cafe mocha. Kami memilih langsung membawanya pulang. Risih rasanya melihat orang-orang merokok disana. Malu rasanya jika kami menghabiskan kopi di tempat selain rumah. Adik memegang pesanannya di tangan kanan dan pesanan saya di tangan lainnya. Angin semilir menemani kami pulang. Dengan hati-hati saya mengendarai motor. Agar kopi kami tidak jatuh setetes pun. Sesampainya di rumah, kami menyeruputnya. Kata adik, kopinya kental, manis, dan segar. Dia mencoba kopi saya. Katanya, rasa kopi punya kakak kuat banget. Raut muka adek berubah menjadi gembira. Tugas menggambar pun dikerjakannya dengan ceria. Dia pun membawa penggaris dan kertas karton dengan semangat menyala. Kelihatannya, gundah sudah tiada. Alhamdulillah, saya yakin Allah kan selalu menjaganya, menghalau kebenciannya, memupuk syukurnya. Saya ingin mendampinginya selagi saya bisa.

Dear adek, jangan putus asa. Allah begitu dekat. Berharaplah hanya pada-Nya. Ospek atau kaderisasi yang menurutmu ndak penting itu, insyaAllah akan menjadi ladang pahala asal dijalani dengan sabar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s