Perang Si Putih dan Si Hitam: antirokok vs prorokok

Image

Saya menangis. Bukan karena melihat melodrama, tapi setelah melihat Indonesia Lawyers Club malam ini (10/07/12). Acara di TVOne ini sedang membahas mengenai RPP rokok, temanya yaitu perang rokok: bisnis atau kesehatan.

Saya melihat begitu banyak tokoh nasional mengampanyekan prorokok. Mulai dari Reny Djayusman, Arswendo Atmowiloto, dan Ketua Granat Henry Yosodiningrat. Mereka umumnya bilang kalo “Saya lebih sehat dari Anda yang tidak merokok”.  Henry bahkan mencurigai kampanye antirokok termasuk RPP Rokok ini didanai oleh pihak asing yaitu Amerika. Logika aneh nggak sih? La wong Kemenkes berkampanye untuk nggak merokok..kok malah dicurigai didanai pihak asing. Padal rokok yang beredar di Indonesia saat ini justru kebanyakan diimpor lo. Jadi, orang-orang yang suka merokok justru memakmurkan negeri pengekspor tembakau. Buktinya, para petani tembakau di Indonesia bukanlah golongan yangs sejahtera. Nggak percaya? saya paham betul bagaimana kehidupan mereka karena saya bekerja di daerah penghasil tembakau. Saya tahu bagaimana mereka menahan diri untuk tidak berobat ke dokter saat musim tanam karena mereka sama sekali tidak punya uang.

Dalam forum ini,para aktivis antirokok selalu menjabarkan fakta dan data penelitian yang menyebutkan betapa bahayanya merokok. Sang lawan justru nggak ngasi data, cuma koar-koar masalah hak asasi dan perasaannya yang merasa didiskriminasi. Bapak ibu prorokok yang terhormat, berpikirlah sesuai cara berpikir yang logis. Jangan mengasumsikan rokok itu tidak berbahaya hanya dengan testimoni satu dua orang. Anda seorang perokok dan saat ini Anda merasa sehat, apa iya Anda bisa lihat proses kerusakan yang ada di dalam tubuh Anda? Penelitian bisa melihat itu semua. Bisa saja lo Anda meninggal mendadak karena sakit jantung atau stroke tanpa ada peringatan sakit. Itu karena rokok! Rokok membuat Anda tidak memiliki “alarm” tubuh tanda adanya kerusakan. Tiba-tiba saja tubuh Anda K.O, lalu meninggal. Orang-orang yang tidak berpendidikan juga seperti itu. Mereka merokok karena merasa merokok itu enak. Merokok bisa menghilangkan stres. Istri dan anak-anaknya dengan pasrah menerima asap rokok dari si bapak. Istri dan anak-anaknya juga “nerimo” kok saat mereka sakit berkepanjangan karena asap rokok. Tahukah Anda, mengapa seorang bayi atau balita sering sekali batuk pilek? karena polusi udara yang disebabkan asap rokok! Saya pernah membuat penelitian itu saat saya dokter muda. Ini data lo, bukan asumsi. Di praktik saya, saya tidak pernah lupa untuk menyemangati ibu-ibu dari bayi yang sering sakit untuk menyuarakan haknya atas udara bersih yang sering direnggut si suami. Dengan cara baik, tentunya. Setidaknya mengurangi rokok, bapak-bapak bisa menyisihkan uang untuk perbaikan gizi keluarga. Saya bilang ke pasien saya yang perokok “Jika Bapak mengurangi sebatang rokok sehari saja, Bapak bisa membeli satu hingga dua butir telur untuk anak Bapak”. Nggak ada cerita..”Saya tidak punya uang untuk membeli makan yang bergizi”. InsyaAllah..Indonesia akan memiliki makin sedikit keluarga dengan gizi buruk.

Henry Yosodiningrat yang ketua Granat ternyata seorang prorokok. Saya baru tahu lho. Saya pikir, sebagai seorang aktivis antinarkoba, dia paham korelasi rokok dan Narkoba. Dokter Kartono Muhammad menyampaikan data penelitian yang menyimpulkan bahwa perokok cenderung menjadi pecandu rokok. Henry menyangkal data itu dengan asumsi “Banyak pecandu narkoba yang tidak merokok” atau “Saya perokok dan saya bukan pecandu Narkoba”. Heyyy…itu Anda Bung. Jangan mengasumsikan segala sesuatu dengan Anda. Lihat data penelitian. penelitian dibuat dengan sampel ratusan perokok bahkan lebih untuk mendapatkan kesimpulan yang bisa dijadikan generalisasi. Bukan testimoni Anda saja! Dia juga bilang, “..kan cenderung menjadi pecandu, masih belum tentu kan“. Ini pula..Logikanya kekanakan. Maaf Pak Henry, saya harus bilang bahwa cara berpikir Anda salah dan inkonsisten. Apa ada hal di dunia ini yang “pasti tentu”. Sama seperti kalimat “Kalau Anda tidak salat, Anda pasti tentu masuk neraka”. Belum tentu kan? Karena banyak sekali variabel yang mempengaruhi. Orang sakit pun seperti itu. Tidak melulu dipengaruhi oleh rokok,tapi juga genetik, pola makan, aktivitas fisik, lingkungan, dll. Seenggaknya,kalo kita mengurangi salah satu faktor itu,kita akan hidup lebih sehat.

Seorang lelaki tua pun bahkan berani mengatakan bahwa orang-orang yang mengampanyekan antirokok adalah orang-orang yang kufur nikmat dan dilaknat Allah. Saya baru tahu kalau lelaki tua itu bernama Ridwan Saidi yang katanya seorang budayawan. Dia juga mengkalim dirnya lebih sehat dari orang-orang antirokok yang katanya terlihat seperti engkong-engkong. Astaghfirullah…Saya menangis lagi.
Ya Rabbi…Saya sangat sedih. Saya nggak nyangka orang-orang yang saya anggap pintar ini bisa membela rokok! Dengan alasan yang terlihat logis, padal nggak sama sekali. Mereka mencari alasan untuk merasionalkan tindakan mereka sebagai perokok itu. Mereka menyudutkan para akademisi terutama dari pihak Kemenkes. Pihak Kemenkes yang diwakili Prof. dr.  Ali Ghufron Mukti pun terlihat menahan diri. Saya melihat dari air muka Pak Wamen yang menahan emosi. Saya tahu beliau juga ingin bicara untuk menanggapi pendapat orang-orang antirokok itu. Tapi beliau terpojok karena begitu banyak orang di forum itu yang berpendapat secara emosional dan tidak menjunjung etika berpendapat. La wong..sang moderator forum, Karni Ilyas juga seorang perokok. Forum yang tidak obyektif!

Saya pun tidak obyektif. Benar. Karena saya seorang dokter. Jelas, saya antirokok. Meski saya yakin Anda akan tahu nanti bahwa beberapa dokter pun merokok. Saya membayangkan bagaimana jika saya duduk di forum itu mewakili Kemenkes, apa yang bisa saya lakukan? Apa saya hanya bisa menangis? Saya ingat kenangan itu. Saya hampir menangis saat seorang pasien protes mengenai edukasi antirokok yang saya lakukan. Di kamar praktek, saya mengalokasikan waktu yang cukup bagi pasien untuk konsultasi. Seorang pasien datang dengan keluhan badan pegal, setelah berkonsultasi, saya baru tahu bahwa pasien ini perokok berat. Tentu, saya mengedukasi pasien itu untuk berhenti merokok. Nggak disangka, pasien ini ngamuk. Pasien merasa dirinya hanya kurang istirahat dan tidak ada hubungannya dengan merokok. Dengan nada tinggi, dia menganggap merokok itu merupakan usaha untuk menyejahterakan petani tembakau Indonesia.  Pasien lalu pergi meninggalkan saya yang berkaca-kaca.

Sayi masih sedih. Saya berharap dalam forum ini ada tokoh antirokok yang bisa berpendapat dengan cantik. Pendapatnya pendek, lugas, dan menggigit. Semoga si putih (baca:malaikat antirokok) menang. Alhamdulillah..ada anggota DPR yang belain Kemenkes (Fraksi PKS, yay!). Ayo Prof. Ali..tetep semangat! Pak..Bu..Silahkan merokok, tapi jangan membuat orang di sekitar Anda menderita karena asap rokok Anda. Itulah tujuan RPP Rokok. Silahkan tanggung sendiri risiko merokok, jangan melibatkan istri dan anak-anak Anda.

Next time deh..saya akan menulis tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi rokok. Saya masih sedih.

Advertisements

7 thoughts on “Perang Si Putih dan Si Hitam: antirokok vs prorokok

  1. Debat masalah rokok dengan perokok memang ga ada abisnya, perokok selalu mencari pembenaran atas kebiasaan buruknya tersebut. Mereka bilang merokok hak azazi tapi mereka juga lupa kalau orang yg tidak merokok juga punya hak azazi untuk menghirup udara bersih…. I hate cigarette.
    Salam Anti Rokok,
    – ex perokok –

  2. Saya nemu blog dokter dari Google setelah nonton ILC yang dibicarakan. Agak miris dan emosi dengar argumen-argumen yang diutarakan pihak pro-rokok. Bahaya merokok kok diperdebatkan dan usaha membantu diartikan sebagai anti-nasionalisme. PR panjang untuk kita semua nih yang anti-rokok.

  3. mungkin kalimat peringatan pada bungkus rokok segera diganti menjadi ” Merokok dapat membunuh orang di sekitar anda”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s