Ibu, Waspadai Cacingan ya


Cacingan merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara tropis terutama Indonesia. Meski cacingan tidak mematikan, tapi penyakit ini menggerogoti kesehatan dan menurunkan kualitas sumber daya manusia. Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2009 menemukan 60% anak TK dan SD di Kalibaru, Jakarta Utara mengalami cacingan. Hal tersebut menunjukkan bahwa cacingan merupakan penyakit endemis dengan prevalensi tinggi.

Cacingan tidak hanya menyerang anak-anak, orang-orang dewasa juga dapat menderita penyakit ini. Pada anak, cacingan menyebabkan malnutrisi, anemia, bahkan penurunan kecerdasan. Hal tersebut terjadi karena cacing menyebabkan diare serta perdarahan pada usus.Cacing yang masuk dalam tubuh manusia, umumnya akan tinggal di dalam usus. Di usus, cacing akan menghisap darah yang berisi zat gizi. Akibatnya, anak-anak yang menderita cacingan akan mengalami hambatan perkembangan fisik, kecerdasan, dan produktivitas. Daya tahan tubuh mereka juga akan berkurang sehingga mereka mudah sakit. Menurunnya produktivitas anak-anak penderita cacingan ditandai dengan anak yang terlihat malas beraktivitas atau belajar sehingga prestasi belajar menurun.

Cacingan merupakan penyakit yang diperantarai tanah. Karena tanah berisiko terpapar oleh feses (tinja) yang mengandung telur cacing. Hal-hal yang memudahkan penularan cacingan di antaranya adalah pemukiman yang membuang feses dari WC ke got atau sungai (bukan septictank). Telur cacing yang berasal dari feses akan terpapar dengan tanah ketika air dari got digunakan untuk menyiram tanaman atau jalanan. Lalu ketika telur cacing tertiup angin, telur cacing akan menempel pada makanan atau bersentuhan dengan manusia lalu termakan. Telur cacing juga menempel pada sayuran yang dalam menanamnya disiram dengan air got dan ketika mengonsumsinya tidak dicuci bersih atau tidak dimasak.

Oleh karena itu, pemberantasan cacingan dimulai dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). PHBS contohnya membuang limbah WC ke septictank, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar, serta mencuci sayuran dengan air mengalir. Sayuran yang dicuci di dalam wadah membuat telur cacing yang sudah terlepas akan menempel kembali. Selain itu, anak-anak dibiasakan untuk memotong kuku setidaknya seminggu sekali, tidak jajan sembarangan, serta memakai alas kaki. Memakai alas kaki diperlukan karena cacing dapat menembus kulit kaki yang tidak menggunakan alas kaki.

Banyak orang tua yag memberikan obat cacing pada anaknya setiap 6 bulan sekali agar anak tidak cacingan. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena terapi yang baik adalah selalu berdasarkan diagnosis. Oleh karena itu, pemberian obat cacing hanya diberikan pada anak yang sudah terdiagnosis cacingan oleh dokter. Sebelum mendiagnosis cacingan, dokter akan melakukan wawancara dan pemerikasaan fisik, dan pemeriksaan feses jika perlu. Masalahnya, orang tua biasanya jijik saat mengambil feses anaknya untuk sampel laboratorium. Akibatnya, orang tua lebih memilih memberikan obat cacing setiap 6 bulan sekali daripada memeriksakan anaknya. Pemeriksaan feses sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Karena terapi cacingan diberikan berdasar jenis cacing yang ditemukan pada feses.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s