Congek a.k.a Chronic Suppurative Otitis Media

Congek memang terdengar sepele, bahkan kadang identik dengan penyakit kalangan bawah. Walaupun presentasenya lebih kecil, congek juga bisa terjadi di negara maju. Di Inggris dan Amerika misalnya, congek kronik hanya terdapat dari 1 persen penduduknya. Di Indonesia angka penderita penyakit ini mencapai 3,1 persen dari total populasi. Dari angka tersebut, sekitar 60% diperkirakan menderita infeksi telinga parah dan hanya bisa ditolong dengan operasi.
Congek atau telinga berair dikenal dalam kedokteran sebagai otitis media supuratif kronik (OMSK), yaitu peradangan pada telinga tengah yang biasanya ditandai dengan keluarnya cairan kental berbau khas yang berlangsung lama. Telinga dibagi menjadi telinga luar, tengah , dan dalam. Bagian tengah dan luar dibatasi oleh lapisan kompak yang disebut gendang telinga. Keluarnya cairan pada congek merupakan pertanda adanya kebocoran pada gendang telinga. Artinya, pada penderita congek, gendang telinganya tidak utuh lagi. Normalnya, telinga tengah tidak langsung berhubungan dengan dunia luar sehingga sifatnya steril. Ruangan ini berhubungan dengan faring melalui saluran yang disebut tuba eustachius. Saluran ini harus tetap terbuka untuk menjaga aliran udara dan tekanan dalam telinga tengah. Sekali saja mampat, seperti pada alergi atau flu, cairan di telinga tengah dapat menumpuk, kuman pun dapat berkembang biak di sana. Inilah yang menyebabkan rasa penuh di telinga atau sedikit budeg pada penderita flu. Otitis media yang akut (mendadak), bila diobati dengan cepat dan tepat, dapat segera membaik. Jika berlangsung terus menerus, cairan yang terkumpul di ruang tengah makin banyak. Akibat tekanan dari cairan ini, gendang telinga dapat robek dan keluarlah cairan ini. Inilah dalam istilah awam disebut congek.
Gejala infeksi telinga tengah yang akut tidak selalu disertai keluarnya cairan dari telinga. Biasanya hanya ditandai dengan rasa nyeri di telinga, suhu badan tinggi, dengan riwayat batuk pilek sebelumnya. Penderita merasa penuh di telinga, atau menjadi berkurang pendengarannya.
Congek ditandai dengan tidak utuhnya gendang telinga penderita, serta keluarnya cairan. Cairan ini biasanya kental dan berbau khas. Bisa juga ditemukan bisul di belakang telinga yang menandakan penyebaran infeksi ke tulang di sekitar telinga. Gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain gejala komplikasi yang lebih serius seperti nyeri kepala, demam, serta kejang.
Adanya cairan yang keluar dari telinga saja sudah harus membuat kita berwaspada. Jadi, apa yang harus dilakukakan? Langkah pertama tentu berkonsultasi dengan dokter. Bila sesuai dengan congek kronik, maka dokter perlu memastikan apakah sudah terjadi komplikasi. Terapi congek tidak jarang memerlukan waktu lama dan harus berulang-ulang. Untuk mencegah congek berulang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Di antaranya, cepat mengobati batuk dan pilek, menjaga stamina, dan tidak dianjurkan untuk mengorek-ngorek telinga atau berenang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s